MAKALAH PBL BLOK 4


Embriologi dan Teratogen


VANIA LEVINA
102011259
KELOMPOK F3



FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
Jln. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510. Telephone : (021) 5694-2061, fax : (021) 563-1731

Pendahuluan

Embriologi adalah Ilmu yang mempelajari Suatu proses yang dimulai dari satu sel hingga berkembang menjadi janin berusia 9 bulan. Tetapi pada proses perkembangan dapat terjadi malformasi yang disebabkan oleh zat teratogen seperti bahn kimia, hormon, serta virus. Kelainan ini dapat menyebabkan ketiadaan suatu struktur secara total atau parsial atau perubahan konfigurasi normal suatu struktur.
A.    Identifikasi Istilah yang Tidak Diketahui
Tidak ada

B.     Rumusan Masalah
1.      Terkena campak
2.      Mengkonsumsi obat campak
3.      5 hari terlambat haid
Tujuan :
Mengetahui zat-zat teratogen yang berbahaya untuk d konsumsi oleh seorang ibu hamil selama masa kehamilannya.
Hipotesis :
Seorang ibu terkena campak dan suaminya memberinya obat dari toko obat. Setelah ibu ini mengkonsumsi obat selama 3 hari, dia baru teringat dirinya telah 5 hari terlambat haid dan sudah didiagnosa oleh dokter hamil 3 minggu. Mereka memutuskan untuk berkonsultasi ke dokter menanyakan berbagai kemungkinan yang terjadi pada janinnya.




Pembahasan

Fertilisasi dan Embriologi
Fertilisasi adalah apabila sperma berhasil kontak dengan sel telur maka sperma akan mengadakan penetrasi ke dalam sel telur. Hasil fertilisasi adalah zigot. 1
Mekanisme terjadinya fertilisasi : untuk terjadinya fertilisasi, sperma dan sel telur harus dalam keadaan matang (maturasi). Sperma dan sel telur yang mengalami maturasi akan mempunyai kromosom yang haploid. Pada laki-laki normal akan mempunyai 23 kromosom (22 autosom dan X/Y), sedangkan perempuan normal akan mempunyai 23 kromosom (22 autosom dan X) dan akan bersatu menghasikan zigot dengan 23 pasang kromosom (2n) atau 46 kromosom.1,2
Sel telur yang matang akan diovulasikan pada stadium oosit II. Apabila oosit II berhasil kontak dengan sperma maaka akan terbentuk ootid dan dilepaskan PB II. Di dalam perjalanan melalui traktus genitalis, sperma mengalami kapasitasi yang di atur oleh beberapa faktor, yaitu : 1. Faktor yang dikeluarkan oleh sperma itu sendiri yang disebut androgamon, 2. Faktor yang dikeluarkan oleh ovum disebut ginogamon.1








Gambar 1        proses fertilisasi,

Setelah bertemu, kepala sperma yang membawa materi genetik akan berpenetrasi (masuk) ke dalam oosit dengan bantuan akrosom yang melepaskan hormone hialunonidase untuk meleburkan corona radiata, dan enzim akrosin untuk menembus zona pelusida, sel telur membentuk membrane fertilisasi (untuk mencegah polispermi) , melebur (amfimiksis), dan melakukan pembelahan (cleavage, lihat gambar 1). Pembelahan ini terjadi setiap sekitar 30 jam. Dalam proses pembelahan ini, bayi masih disebut dengan blastocyte (Blastula), yang terdiri dari 100 sel. Bagian luar blastocyte akan menjadi placenta, sedangkan bagian dalam akan menjadi embrio.
Pada minggu kedua, bayi terdiri dari sekitar 150 sel. Placenta mulai terbentuk, bagian dalam sel memadat dan berkembang menjadi tiga lapisan yang disebut piringan embrionik (embryonic disc), yang terdiri dari lapisan ectoderm, mesoderm, dan endoderm.3

a.       Derivat ektoderm
Organogenesis lapisan ektoderm :
1.      Pembentukan susunan saraf pusat (SSP).
2.      Kepala, rahang (berasal dari brachial arch I), leher (berasal dari branchial arch ke III dank e IV pada minggu ke 4)
3.      Bagian-bagian badan
4.      Ekstremitas (tangan dan kaki)
5.      Pembentukan tabung neural (otak)









            Gambar 2        perkembangan tabung neural
                                    Sumber : slide presentasi embriology 2 dr. J. Hudyono



6.      Pembentukan organ indera

Pada derivate ektoderm juga akan terjadi pembentukan organ indera yaitu:
-          Hidung
Berasal dari penebalan ektoderm di ventral lateral telecephalon dan kemudian berkembang menjadi olfaktori placode lalu menjadi olfaktori pit. Olfaktori pit terbagi dua yaitu dinding lateral, prosesus nasalis lateralis yang akan menjadi cuping hidung (allae) dan juga berperan dalam pembentuk maksilaris oleh premaksilaris yang dibentuk branchial arch 1. Olfaktori pit pada dinding medial yaitu prosesus nasalis medianus. Prosesus nasalis medianus kiri dan kanan akan bersatu membentuk septum nasi (atap hidung). Olfaktori pit yang semakin membesar akan meluas dan di bagian ventral akan membentuk membran uronasalis dan pecah lalu kavum oris bergabung dengan kavum nasi.

-          Mata
Optic vesicle yang berasal dari tonjolon diencephalon akan berinvaginasi menjadi optic cup, sementara bagian proksimalnya akan membentuk optic stalk. Pada optic stalk terdapat celah yang disebut fisura koirodea. Apabila fisura koirodea dialiri oleh pembuluh darah arteri dan vena maka akan menjadi retina dan koirodea.
Penebalan di ektoderm kepala yang berhadapan dengan optic cup disebut lens placode, lens placode kemudian akan masuk ke optic cup menjadi lens vesicle. Sel-sel mesenkim di sekitar jaringan kepala membentuk jaringan fibrosa lalu membentuk sklera di bagian posterior dan kornea di bagian anterior.

-          Telinga
Telinga terbagi menjadi tiga bagian yaitu telinga bagian luar yang dibentuk oleh branchial groove 1, telinga bagian tengah oleh visceral pouch 1 yang membentuk tuba Eustachius dan membran timpani serta sel mesenkim branchial arch 1 yang membentuk tulang-tulang pendengaran stapes, maleus dan inkus dan telinga bagian dalam yang dibentuk oleh otosis yang merupakan tonjolan pada myelencephalon. 

b.      Derivat mesoderm
Organogenesis lapisan mesoderm :
1.      Mesoderm kepala (kranial) (paraxial head)
è Sel mesenkim kepala:
Osteoblas :membrane desmoids à tulang tengkorak
Mioblas : otot yang melekat pada tengkorak / bercorak
2.      Mesoderm axial (paraxial trunk)
Mesoderm dorsal:
Dermomiotom
Dermotom à dermis + derivatnya (rambut, kelenjar sebasea)
Miotom àotot bercorak dada, punggung, perut
Sklerotom à tulang aksial, tulang dada, vertebra, pelvis
Mesoderm intermedier
Pembentukan alat ekskresi
Pronefros
Mesonefros
Metanefros
Perkembangan organ genitalia
Gonad
Saluran reproduksi
Saluran tambahan
Mesoderm lateral

c.       Derivat Endoderm 4
Diferensiasi Foregut
Di minggu keempat, tunas paru muncul di dinding ventral foregut. Antara tunas paru dan foregut ini dipisahkan oleh septum tracheoesophageal. Bagian foregut dorsal ini akan berkembang menjadi esofagus. Derivat foregut nantinya akan menjadi :
1.      Esofagus
2.      Lambung
3.      Duodenum
4.      Hati dan pankreas
5.      Kantung empedu
Derivat dari mid gut :
-          Setengah bagian distal dari duodenum
-          Jejunum
-          Ileum
-          Cecum
-          Appendix
-          Kolon asenden
-          2/3 dari kolon transversal
Diferensiasi Hindgut
-          Hindgut akan berkembang menjadi ujung distal sepertiga dari kolon transversal, kolon descenden, rektum, serta lubang anal bagian atas. Endoderm hindgut membentuk lapisan internal dari kandung kemih dan urethra
-           
Teratogen
 Cacat lahir, malformasi kongenital, dan anomali kongenital adalah istilah-istilah sinonim yang digunakan untuk menjelaskan gangguan struktural, perilaku, fungsional, dan metabolik yang ada sejak lahir.5
Mlaformasi terjadi selama pembentukan struktur, sebagai contoh selama organogenesis. Kelainan ini dapat menyebabkan ketiadaan suatu struktur secara parsial atau perubahan konfigurasi normal suatu struktur. Malformasi disebabkan oleh faktor lingkungan dan atau genetik yang bekerja secara bersamaan. Kebanyakan malformasi terjadi pada minggu ketiga sampai kedelapan kehamilan.
Kebon Jeruk-20120130-07729.jpg



Gambar 3        waktu dalam kehamilan versus risiko cacat lahir yang timbul.
Sumber : Sadler TW. Embriologi Kedokteran Langman. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 10th ed. 2010. h. 130

Pengaruh penyakit campak terhadap janin
Campak adalah suatu infeksi virus menular yang menimbulkan gejala yang ringan. Jika menyerang wanita hamil (terutama pada saat kehamilan 8-10 minggu), bisa menyebabkan keguguran, kematian bayi dalam kandungan atau kelainan bawaan pada bayi. Penyebabnya adalah virus. Virus rubella ditularkan melalui percikan ludah penderita atau karena kontak dengan penderita.
Sebagian masyarakat masih ada yang kurang memahami virus rubella atau campak Jerman. Meski penyakit yang sejenis dengan campak namun berbeda virus penyebabnya ini, hanya menyerang sekali seumur hidup namun efeknya berbahaya jika penderitanya adalah ibu hamil. Meski virus penyebabnya berbeda, namun rubella dan campak (rubeola) mempunyai beberapa persamaan. Rubella dan campak merupakan infeksi yang menyebabkan kemerahan pada kulit pada penderitanya.
Perbedaannya, rubella atau campak Jerman tidak terlalu menular dibandingkan campak yang cepat sekali penularannya. Penularan rubella dari penderitanya ke orang lain terjadi melalui percikan ludah ketika batuk, bersin dan udara yang terkontaminasi. Virus ini cepat menular, penularan dapat terjadi sepekan (1 minggu) sebelum timbul bintik-bintik merah pada kulit si penderita, sampai lebih kurang sepekan setelah bintik tersebut menghilang.
Bagi ibu hamil, campak Jerman sangat berbahaya efeknya terutama pada tiga bulan pertama kehamilan. Virus rubella dapat menembus plasenta dan menyerang janin yang sedang tumbuh sehingga dapat menyebabkan janin yang dikandung akan cacat. Rawannya trimester pertama, karena pada saat itulah masa pembentukan organ tubuh janin. Jika kandungan ibu sudah mencapai triwulan kedua, kemungkinan cacat bawaan berkurang sampai 6,8%. Sedangkan dalam triwulan ketiga, kemungkinan itu makin kecil, yaitu 5,3% saja.
Biasanya, kalau ibu terjangkit rubella sebelum trimester kedua kehamilannya, dokter akan menganjurkan agar kandungannya dibuang. Sebab, adanya kemungkinan bayi cacat perlu dipertimbangkan.Selain itu, bayi yang dilahirkan dari ibu yang terjangkit rubella akan menjadi penyebar virus selama berbulan-bulan sesudahnya. Ini tentu membahayakan. Baik terhadap sesama bayi maupun orang dewasa.
Karena itulah, disarankan bagi wanita yang mengandung untuk rutin melakukan pemeriksaan untuk mengantisipasi virus tersebut. Atau lebih baik lagi, jika mendapatkan imunisasi measles-mumps-rubella (MMR). Untuk memberantas rubella, disarankan agar wanita yang belum menikah atau berkeinginan hamil menjalani pemeriksaan atau test darah. Jika wanita tersebut tergolong rentan rubella, sebaiknya divaksinasi.6

Pengaruh konsumsi obat terhadap janin
Obat yang dikonsumsi ibu hamil dapat masuk ke dalam plasenta dan sirkulasi janin. Beberapa jenis obat bahkan dapat di sekresi melalui ASI sehingga kadarnya dalam sirkulasi tubuh bayi hampir sama dengan kadar dalam darah ibu yang dalam beberapa situasi akan membahayakan bayi.
Obat berpindah dari ibu ke janin terutama melalui plasenta (ari-ari), yaitu melalui jalan yang sama yang dilalui oleh zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Di dalam plasenta, obat dan zat gizi di dalam darah ibu melewati selaput tipis yang memisahkan darah ibu dengan darah janin.
Beberapa jenis obat boleh diminum selama kehamilan ataupun menyusui karena terbukti aman, baik bagi ibu hamil dan janin. Obat yang diminum oleh wanita hamil bisa mempengaruhi janin melalui beberapa cara:
  • Secara langsung bekerja pada janin, menyebabkan kerusakan, kelainan perkembangan atau kematian.
  • Mempengaruhi fungsi plasenta, biasanya dengan cara mengkerutkan pembuluh darah dan mengurangi pertukaran oksigen dan zat gizi diantara janin dan ibu.
  • Menyebabkan otot rahim berkontraksi sekuat tenaga, yang secara tidak langsung mencederai janin dengan mengurangi aliran darah ke janin.

Teratogen
Malformasi kongenital
Agen Infeksi

Virus rubela
Katarak, glaukoma, cacat jantung, tuli, kelainan gigi
Situmegalovirus
Mikrosefalus, kebutaan retardasi mental, kematian janin
Virus herpes simpleks
Mikroftalmia, mikrosefalus, displasia retina
Virus varisela
Hipoplasia ekstermitas, retardasi mental, atrofi otot
HIV
Mikrosefalus, retardasi pertumbuhan
Toksoplasma
Hidrosefalus, kalsifikasi serebrum mikriftalmia
Sifilis
Retardasi mental, ketulian
Agen fisik

Sinar x
Mikrosefalus,  spina bifida, langit-langit sumbing, cacat extremitas
Hipertermia
Anensefalus, spina bifida, retardasi mental, cacat wajah, kelainan jantung, omfalokel, cacat extremitas
Bahan kimia

Talodomid
Cacat extremitas, malformasi jantung
Aminopterin
Anensefalus,  hidrosefalus, langit-langit sumbing
Difenilhidantion (fenitoin)
Sindrom hindantoin : cacat wajah,  retardasi metal
Asam valproat
Cacat tabung saraf,anomali jantung/kraniofasial/extremitas
Trimetadion
Langit-langit sumbing, cacat jantung, kelainan urogenital dan tulang
Litium
Malformasi jantung
Amfetamin
Bibir dan langit-langit sumbing, cacat jantung
Warfarin
Kondrodisplasia, mikrosefalus
Inhibitor ACE, angiotensin-converting enzyme ( enzim pengubah angiotensin)
Retardasi pertumbuhan, kematian janin
Kokain
Retardasi pertumbuhan, mikrosefalus, kelainan perilaku, gastroskisis
Alkohol
Sindrom alkhol janin, fisura palpebra pendek, hipoplasia maksila, cacat jantung, retardasi mental
Isotretiono (vit.A)
Embriopati vit.A : telinga kecil dan berbentuk abnormal, hipoplasia mandibula, langit-langit sumbing, cacat jantung
Pelarut industri
BBLR, cacat kraniofasial dan tabung saraf
Merkuri organik
Gejala neurologis
Timbal
Retardasi pertumbuhan, gangguan neurologis
Hormon

Bahan androgenik
Maskulinisasi genitalia : labia menyatu, hipertrofi klitoris
Dietilstilbestrol (DES)
Malformasi uterus, tuba uterina, dan vagina bagian atas; kanker vagina; malformasi testis
Diabetes ibu
Berbagai malformasi; tersering cacat jantung dan tabung saraf
Obesitas ibu
Cacat jantung, omfalokel
Tabel 1 teratogen yang berkaitan dengan malformasi pada manusia
Sumber :  Sadler TW. Embriologi Kedokteran Langman. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 10th ed. 2010. h. 131



Kesimpulan
Sebagian besar malformasi mayor diinduksi selama periode embriogenesis, tetapi pada stadium sebelum dan sesudah waktu ini janin juga rentan sehingga tidak ada masa kehamilan yang sama sekali bebas resiko.



Daftar Pustaka
1.      Priastini R, Hartono B, Hudyono J. Dasar biologi sel. Jakarta: Fakultas Kedokteran UKRIDA. .h 203
2.      Aryulina D, Muslim C, Mnaf S, Winarni EW. Bologi 2. Jakarta : penerbit Erlangga. 2004.h.297
3.      Herawati S, Rukmini S. Ilmu penyakit telinga hidung tenggorok. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2004. h. 22
4.      Suryadi E. The general development of digestive system. Edisi 2009. Diunduh dari http://www.scribd.com/doc/45366050/HSC-The-General-Development-of-Digestive-System, 29 Januari 2011
5.      Sadler TW. Embriologi Kedokteran Langman. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 10th ed. 2010. h. 131
6.      Stright BR. Panduan belajar: Keperawatan ibu-bayi baru lahir. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2005. h. 38-9

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar