Food for Thought, Konosuke Matsushita
Bukan main terkejutnya si pelayan melihat pelanggan yang begitu jauh sederhana di tokonya yang mewah dan bergengsi itu. Karena itu dengan terburu-buru ia membungkus manju itu. Tapi belum lagi ia sempat menyerahkan manju itu kepada si pengemis, muncullah si pemilik toko berseru, “Tunggu, biarkan saya yang menyerahkannya”. Seraya berkata begitu, diserahkannya bungkusan itu kepada si pengemis.
Si pengemis memberikan pembayarannya. Sembari menerima pembayaran dari tangan si pengemis, ia membungkuk hormat dan berkata, “Terima kasih atas kunjungan anda”.
Setelah si pengemis berlalu, si pelayan bertanya pada si pemilik toko, “Mengapa harus anda sendiri yang menyerahkan kue itu? Anda sendiri belum pernah melakukan hal itu pada pelanggan mana pun. Selama ini saya dan kasirlah yang melayani pembeli”.
Si pemilik toko itu berkata, “Saya mengerti mengapa kau heran. Semestinya kita bergembira dan bersyukur atas kedatangan pelanggan istimewa tadi. Aku ingin langsung menyatakan terima kasih. Bukankah yang selalu datang adalah pelanggan biasa, namun kali ini lain.”
“Mengapa lain,” tanya pelayan. “Hampir semua dari pelanggan kita adalah orang kaya.
Bagi mereka, membeli kue di tempat kita sudah merupakan hal biasa. Tapi orang tadi pasti sudah begitu merindukan manju kita sehingga mungkin ia sudah berkorban demi mendapatkan manju itu. Saya tahu, manju itu sangat panting baginya. Karena itu saya memutuskan ia layak dilayani oleh pemilik toko sendiri. Itulah mengapa aku melayaninya”, demikian penjelasan sang pemilik toko.
Konosuke Matsushita, pemilik perusahaan Matsushita Electric yang terkemuka itu, menutup cerita tadi dengan renungan bahwa setiap pelanggan berhak mendapatkan penghargaan yang sama. Nilai seorang pelanggan bukanlah ditentukan oleh prestise pribadinya atau besarnya pesanan yang dilakukan.
Seorang usahawan sejati mendapatkan sukacita dan di sinilah ia harus meletakkan nilainya.
Harga Satu Menit
Puisi Orang Gagal
Aku takut orang lain akan menghina diriku, jika aku menjadi diri sendiri. Aku takut orang lain akan mentertawakanku, jika aku berani tampil beda. Aku takut orang lain akan menganggapku gila, jika aku berani mencoba hal-hal baru. Aku takut orang lain akan mengucilkanku, jika aku tidak sesuai dengan pandangan mereka. Aku takut orang lain akan mengejekku, jika aku gunakan caraku sendiri. Aku takut orang lain akan menganggapku orang aneh, jika aku melakukan sesuatu yang berbeda dari cara orang kebanyakan.
Aku takut..
Aku takut…
Aku takut….
Aku takut dunia akan melemparkanku ke jurang kesepian jika aku berusaha untuk menjadi apa adanya diriku…..
Aku sangat takut…..
Makanya lebih baik aku menjadi seperti orang kebanyakan yang hanya mengharapkan upah standar dan hidup gak neko-neko.
Gak perlu ngambil resiko untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Gak perlu repot-repot punya impian karena impian itu hanya untuk orang yang tidak waras.
Gak perlu susah menjalani kerasnya perjuangan mewujudkan mimpi.
Gak perlu kelaparan makan sehari sekali demi ngumpulin modal.
Gak perlu ngrasain pahitnya dihina karena punya impian tinggi yang orang lain gak bakalan ngerti.
Gak perlu kurang tidur lembur tiap hari demi cita-cita yang tinggi.
Gak perlu ini, gak perlu itu….
Simple aja lah, nikmati kehidupan standar, penghasilan standar, nasib standar…..
Siapa tau besok pasang togel bisa meledak dapat milyaran.
Siapa tau………
Mendingan nonton sinetron sambil tiduran, nikmat………..
Para Pemenang adalah Orang-orang seperti Anda

Para Pemenang tidak mau menyerah. Ketika hidup bertambah sulit, mereka bertahan sampai keadaan berubah menjadi lebih baik.
Para Pemenang bersikap fleksibel. Mereka menyadari bahwa ada cara lain dan berani untuk mencoba cara lain.
Para Pemenang menyadari bahwa mereka tidak sempurna. Mereka menyadari kekurangannya namun berfokus pada kekuatan mereka.
Para Pemenang kadang gagal tetapi mereka tidak selamanya gagal. Mereka dengan keras kepala menolak kegagalan yang berusaha menghalangi kesuksesan mereka.
Para Pemenang tidak menyalahkan nasib buruk atas kegagalan, ataupun keberuntungan atas kesuksesan mereka.
Para Pemenang menerima tanggung jawab atas hidup mereka.
Para Pemenang adalah pemikir yang positif yang melihat hal yang baik dalam segala hal.
Dari hal yang biasa, diubahnya menjadi luar biasa.
Para Pemenang meyakini jalan yang dipilihnya walau sulit, bahkan ketika orang lain tidak dapat mengerti kemana mereka tuju.
Para Pemenang adalah orang yang sabar. Mereka menyadari bahwa sebuah tujuan sama berharganya dengan usaha yang dibutuhkan untuk mencapainya.
Para Pemenang adalah orang-orang yang percaya pada diri mereka.
Mereka menjadikan dunia ini sebagai tempat yang lebih baik lagi.
Para Pemenang adalah Orang-orang seperti Anda.
Kita semua dilahirkan untuk MENANG. Namun, untuk menjadi PEMENANG, kita harus berencana untuk MENANG. Kita harus mempersiapkan diri kita untuk MENANG kemudian kita harus berlatih untuk MENANG,setelah itu baru kita berharap untuk MENANG.
Tapi ingat....ada proses dari semua itu. Belajarlah untuk mencintai, menikmati dan melewati proses itu.
Pemenang bukan orang-orang yang mengharapkan sesuatu yang instant.
Pemenang adalah orang-orang yang menciptakan.
Kisah inspirasi - kisah keluarga tikus.
Ini bukan tentang keluaraga Stuart little, ini tentang sebuah keluarga tikus dengan delapan anakanya yang masih belajar mencari makanan.
Kebetulan ini adalah keluarga tikus rumahan, yang mencari makanan dari sisa-sisa makanan manusia. Ada 2 tikus si belang dan si putih menemukan sepotong keju. Namun, ada pertanyaan besar bagi kedua anak tikus tersebut sehingga mereka ragu mengambil keju tersebut.
Apa yang membuat mereka ragu? Sebab keju tersebut tidak tersimpan di lemari. Padahal mereka biasa mencuri makanan di dalam lemari.
"Jangan-jangan ini keju yang sudah membusuk dan dibuang," kata si putih.
"Tidak, meski dari kejauhan saya mencium keju itu mesih segar. Pasti enak," kata si belang.
"Tapi warnanya kusam," kata si putih.
"Bukan warna yang menentukan, tetapi aromanya," kata si belang.
"Ya sudah, kita ambil saja!," kata si putih.
"Boleh, tapi ukurannya kecil. Paling, cukup untuk kita berdua," kata si belang
"Bukankah kata Ayah, kita harus saling berbagi?," kata si putih.
"Tapi, percuma di bagi-bagi, nanti kebagian sedikit," kata si belang.
"Cukuplah, tidak kecil-kecil amat," kata si putih.
"Iya sih, kalau untuk sekalil makan akan kenyang. Tapi untuk tiga kali akan terasa kurang," kata si belang
Ternyata, Ayah mendengar pembicaraan kedua anak ini.
"Anak-anakku, apa yang kali bicarakan adalah benar. Tapi, tidak benar seutuhnya," sela Ayah.
"Apa maksud Ayah?," kata si putih.
"Kalian terlalu fokus pada keju. Kalian harus melihat masalah dengan pandangan yang lain. Ini menyangkut hidup mati kalian," jelas Ayahnya. Tapi kedua anaknya yang belum berpengalaman, malah heran dan kebingungan.
"Saya tidak mengerti Ayah!" kata si belang.
"Ok, tunjukkan dimana kalian menemukan keju ini," Kata Ayahnya.
kedua anak tersebut mengantarkan ayahnya ke tempat keju tersebut.
"Apa yang kalian lihat?," kata Ayanhnya menguji pandangan anaknya.
"Keju, Ayah! jawab kedua anak serempak.
"Coba lihat lagi," kata ayahnya sambill tersenyum.
Kedua anaknya memperhatikan keju dengan seksama, tetapi mereka tetap bingung karena tidak ada yang aneh. Melihat anaknya kebingungan, ayah mengajak naik ke sebuah meja.
"Nah, sekarang lihat di atas meja ini, apa yang kalian lihat?," tanya ayah.
"Saya melihat ada sebuah alat dimana didalamnya terdapat keju," jawab si putih.
"Oh iya, baru terlihat!" lanjut si belang. "Alat apa itu ayah?," tanya si belang.
"Itu adalah pertanyaan yang bagus. Kalian sudah tidak terfokus pada keju itu lagi melainkan pada sistem yang lebih besar. Pertanyaan kalian ini akan menyelamatkan hidup kalian. Alat itu adalah perangkap. Jika kalian mengambil keju, ada senjata yang akan membunuh kalian," jelas ayahnya.
Mereka berdua kaget. Tidak terpikirkan sebelumnya. Mereka hanya fokus pada keju.
"Jika kalian mellihat secara utuh, pertanyaan kalian akan benar menyelamatkan kalian. Jangan fokus pada pandangan sempit dan mengambil keputusan pada pandangan tersebut. Dari perbedaan cara pandang ini, bisa menentukan hidup dan matinya kalian," jelas ayahnya dengan tatapan kasih.
Layaknya tikus, kita yang manusia ternyata juga lebih sering menyukai keju dan lupa pada perangkapnya. Kita sering caci, serang, hina, bahkan bunuh! tanpa memikirkan dampak perbuatan kita. So, sebelum melakukkan sesuatu, lihatlah dari beberapa pandangan. Jangan hanya satu.